Now he is looking at the teacher who speak in class. He put down his pencil and chin in hand. His eyes were really paying attention to lessons, while I'm watching him over here. He wass a bit far from my seat, more in front of me. Seeing he's writing, I remembered myself now is writing something about him here. Did he write my name in his note? Did he look at me like I watch him everytime? The more I think, the more I lost in my imagination. And the more time l look at him, the greater my desire to make my fantasies come true.
Shame the note, I smiled to myself. Now I looked at the sky outside the window again, then turned to the rest of the class. Found himself still there, I really liked him. Even now is our 2nd grade, I survived for a year to love him without his knowledge. But deep down, I still always hope; that someday he will realize me.
Kring! And after school bell rang. My class teacher sighed, then go. I cleaned up my bag, put drawing book and my some notes, then walk unsteadily toward the door. A friend approached me.
"You look lethargic today!" She said. She s Selvi, my friend since childhood.
"No. Maybe I'm less excited. After all, it's a new day in the new semester and new classes. I didnt think to continue to feel tense as last year." I smiled at her, and then we walked along. "Oh yea, I wanted to walk. If you want to ride the bus, I didnt force yuo to join me."
"Really? I'm sorry I cant be with you, because it seems like my family needed me today to help repair the house."
"Sure, that's fine. Glad to see you and your family get along. I'm also going to make dinner for my mom and dad. See ya" I split up at the school gates, and Selvi went to the bus queue. I chose to walk, like refreshing my brain was feeling dizzy with all the lessons. Im an ordinary person in the school. Known to many people, but not as famous as other famous kids. Unlike him, the people I love. Favored, but would rather be alone. He is Lucas.
[I'm sorry this is the way I practice my english, is that bad? I'm sorry i made this by myself so I thought it was bad, hope you like it and please wait for another chapter!]
Indonesian:
Aku melihat keluar jendela, menengadah dan menghela nafas
panjang. Jam pelajaran terasa begitu lama. Aku melihat langit yang tinggi
disana, yang melengkapi keindahan pepohonan di bawahnya. Kemudian aku menatap
buku catatanku, lalu membolak-balikkan halamannya. Ada beberapa catatan
harianku yang terpencar disana, yang aku tulis setiap kali aku melihatnya.
Sekarang ia sedang melihat guru yang
berbicara di depan kelas. Ia meletakkan pensilnya dan bertopang dagu. Matanya
benar-benar memperhatikan, sementara aku disini memperhatikannya. Dia berada
agak jauh dari tempat dudukku, lebih di depanku. Melihatnya mencatat, aku
teringat diriku yang kini menulis sesuatu disini. Apakah dia menuliskan namaku
di catatan pentingnya? Apakah ia memperhatikan aku seperti aku
memperhatikannya? Semakin aku berfikir, semakin lama aku terhanyut dalam
khayalanku. Dan semakin lama memandanginya, semakin besar keinginanku untuk
membuat khayalanku terwujud. – August, 2009.
Malu dengan catatan itu, aku tersenyum sendiri. Kini
ku pandangi lagi langit di luar jendela, kemudian menoleh ke seluruh kelas.
Mendapati dirinya masih ada disana, aku benar-benar menyukainya. Bahkan kini
kami kelas 2, aku bertahan selama satu tahun untuk memandangnya tanpa
sepengetahuannya. Tapi dalam hati, aku masih selalu berharap.
KRING! Dan bel pulang sekolah
berbunyi. Guru kelasku menghela nafas panjang, kemudian pergi. Aku membereskan
tasku, memasukkan drawing book dan
catatan-catatanku yang lain, kemudian berjalan dengan gontai ke arah pintu.
Seorang teman menghampiriku.
“Kau kelihatan lesu hari ini!”
Katanya. Dia Selvi, temanku sejak kecil.
“Tidak. Mungkin aku sedang
kurang bersemangat. Lagi pula, ini hari baru di semester baru dan kelas yang
baru. Aku tidak berpikir untuk tetap merasa tegang seperti tahun lalu.” Aku
tersenyum padanya, kemudian kami berjalan bersama. “Ohya, aku ingin jalan kaki.
Jika kau ingin naik bis, aku tidak memaksamu untuk menemaniku.”
“Benarkah? Aku minta maaf karena
tidak bisa menemanimu, karena sepertinya keluargaku membutuhkan ku hari ini
untuk melakukan pekerjaan rumah.”
“Tentu, tak apa. Senang melihat
mu dan keluargamu akur. Aku juga akan membuatkan makan malam untuk ibu dan
ayahku. See ya” Aku berpisah di
gerbang sekolah, dan Selvi pergi ke antrian bis. Aku memilih untuk jalan kaki,
ingin refreshing karena merasa otakku
sedang pusing dengan segala pelajaran. Aku orang biasa di sekolahku. Dikenal
banyak orang, tapi tidak seterkenal anak terkenal lainnya. Berbeda dengan dia,
orang yang ku sukai. Digemari, tapi lebih suka menyendiri. Lucas.
No comments:
Post a Comment